PTK IPA SD Kelas 2 :Kegiatan Bercocok Tanam Sebagai Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa Mengenai Pertumbuhan Tumbuhan di Kelas II SDN Bakung 01

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Pada usia delapan tahun normalnya anak berada pada jenjang kelas dua atau tiga SD yang sebenarnya masih merupakan masa-masa keemasan bagi anak, karena proses menerima dan menyerap berbagai bentuk pengalaman baik dari guru ataupun lingkungan sekitar akan dengan mudah mereka terima. Salah satu komponen yang sangat penting dalam dunia pendidikan adalah guru, guru merupakan ujung tombak pendidikan. Dalam konteks ini, guru mempunyai peranan yang sangat besar dan strategis, karena gurulah yang berada di barisan paling depan dalam pelaksanaan pendidikan. Guru langsung berhadapan dengan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang di dalamnya mencakup kegiatan pentransferan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penanaman nilai-nilai positif melalui bimbingan dan dan pengarahan.

Ilmu Pengetahuan Alam adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya. IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis olah manusia yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan manusia. Pembelajaran IPA berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh rahasia yang tak habis-habisnya. Khusus untuk IPA di SD hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu siswa secara alamiah.

Menurut pandangan konstruktivisme keberhasilan belajar bukan hanya bergantung lingkungan atau kondisi belajar melainkan juga pada pengetahuan awal siswa. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata, hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Piaget yaitu belajar merupakan proses adaptasi terhadap lingkungan yang melibatkan asimilasi, yaitu proses bergabungnya stimulus kedalam struktur kognitif. Bila stimulus baru tersebut masuk kedalam struktur kognitif diasimilasikan, maka akan terjadi proses adaptasi yang disebut kesinambungan dan struktur kognitif menjadi bertambah.

Oleh karena itu tahap berfikir anak usia SD harus dikaitkan dengan hal-hal nyata dan pengetahuan awal siswa yang telah dibangun mereka dengan sendirinya. SDN Bakung 01 yang mempunyai memliki area yang luas, didukung letak sekolah yang strategis dengan wilayah pemerintahan, perdagangan maupun pertanian merupakan modal besar untuk melaksanakan kegiatan belajar luar sekolah yang bersifat konstruktif untuk menunjang kegiatan dalam kelas.

Pembelajaran IPA di SDN Bakung 01 saat ini menerapkan pengajaran konvensional dimana guru menerangkan materi pelajaran di depan kelas dan siswa mencatat yang dituliskan guru. Atau latihan soal yang ada di buku pegangan siswa. Jika ada pertanyaan dari siswa guru menjawab atau menjelaskan. Pada pengajaran ini guru sebagai pusat pengajaran sementara siswa bersifat pasif mendengarkan dan melaksanakan perintah guru untuk menulis.

Ada beberapa masalah yang dihadapi dengan pengajaran seperti ini, misalnya ketika guru menjelaskan banyak siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, mereka bergurau, ngobrol dengan teman-temannya. Bahkan ada siswa yang menaikan kakinya ke atas meja. Melihat kondisi kelas seperti itu guru langsung memberikan pertanyaan kepada siswa seputar materi, namun mereka terdiam dan tidak paham.  Pada akhir pokok bahasan tersebut siswa di suruh belajar tentang materi pertumbuhan tumbuhan.

Setelah diadakan evaluasi ternyata hanya sebagian yang bisa menjawab pertanyaan dengan baik, sebagian besar siswa tidak bisa menjawab pertanyaan dalam evaluasi. Setelah diadakan Tanya jawab secara lisan hanya terdapat 1 atau dua orang saja yang memahami benar materi yang diajarkan pada pertemuan sebelumnya yaitu tentang pertumbuhan tumbuhan.

Dari kondisi yang ada dimana siswa sulit sekali mencerna mata pelajaran yang telah diajarkan, ternyata ada beberapa penyebab masalah antara lain pada awal pembelajaran guru tidak melakukan apersepsi, guru kurang membangkitkan motivasi terhadap pembelajaran, siswa tidak memperhatikan penjelasan guru, dalam menyampaikan materi kurang menarik sehingga pembelajaran terasa membosankan dan dalam pembelajaran juga guru tidak melakukan penjelasan praktikal terhadap materi IPA.

Pembelajaran yang terjadi di atas mengakibatkan siswa tidak paham tentang makhluk hidup dan pertumbuhannya dan siswa tidak berani mengungkapkan pendapatnya. Masih sering terjadi, dalam pembelajaran IPA guru mengharapkan siswa diam dengan sikap duduk tegak dan menghadap ke depan, sementara guru dengan fasih menceramahkan materi IPA. Pembelajaran demikian jelas bertentangan dengan hakikat anak dan pendidikan IPA itu sendiri. Pembelajaran IPA yang efektif dicirikan antara lain oleh tingginya kemampuan pembelajaran tersebut dalam menyajikan hakekat pendidikan IPA di SD yakni sebagai proses, produk dan sikap.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran berbasis konstruktivisme dalam pembelajaran IPA. Yaitu dengan melakukan kegiatan luar ruangan “bercocok tanam” dan melakukan pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman yang mereka tanam. Karena pembelajaran yang mengacu pada pandangan konstruktivisme seperti ini lebih memfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka, dengan kata lain siswa lebih berpengalaman untuk mengkonstruksikan sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.

Latar belakang di atas mendorong penulis untuk megambil fokus penelitian dengan judul “ Kegiatan Bercocok Tanam Sebagai Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa Mengenai Pertumbuhan Tumbuhan di Kelas II SDN  Bakung 01”.

 

 

B. Rumusan Masalah

Merujuk pada uraian latar belakang masalah diatas, dapat dikaji ada beberapa permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini, antara lain:

1. Efektifkah pengajaran melalui kegiatan bercocok tanam untuk meningkatkan pemahaman siswa pada matei IPA pokok bahasa pertumbuhan tumbuhan kelas II?

2.  Bagaimana kondisi prestasi dan motivasi belajar siswa kelas II SDN Bakung 01 dengan penerapan metode kegiatan bercocok tanam yang diadakan diluar sekolah.

 

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian dalam bentuk tindakan kelas ini bertujuan untuk:

  1. Mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap Materi IPA pada pokok bahasan pertumbuhan tumbuhan dengan metode kegiatan bercocok tanaman.
  2. Mengetahui kondisi siswa dalam belajar IPA dengan mengikuti kegiatan bercocok tanam sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang pertumbuhan tumbuhan di kelas II SDN Bakung 01.

 

D.   Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian latar belakang dan permasalahan dalam penelitian tindakan kelas yang berjudul “Kegiatan Bercocok Tanam Sebagai Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa Mengenai Pertumbuhan Tumbuhan di Kelas II SDN  Bakung 01 dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut:

“Jika proses belajar siswa pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas II menggunakan pendekatan kegiatan diluar sekolah dalam hal ini pokok bahasan pertumbuhan tumbuhan yang didukung dengan kegiatan bercocok tanam, maka dimungkinkan minat belajar IPA dan hasil evaluasi dan kemampuan belajar siswa kelas 2 akan lebih baik dibanding dengan cara mengajar yang dilakukan sebelumnya.

 

E.   Manfaat Penelitian

Penulis mengharapkan dengan hasil penelitian ini dapat memberikan beberapa manfaat yaitu:

  1. Mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menjawab tes evaluasi yang berhubungan dengan materi pertumbuhan tumbuhan
  2. Memberikan asumsi bahwa belajar itu menyenangkan dan memotivasi siswa untuk lebih dapat memahami pelajaran yang diberikan guru
  3. Memberikan sumbangan pemikiran tentang metode pengajaran yang berbasis konstruktivisme dengan kegiatan belajar diluar ruangan seperti halnya kegiatan bercocok tanam.

 

F.   Batasan Masalah

Metode pembelajaran seperti konsstrutivisme yang masih umum,  permasalahan pengajaran  sangat komplek dan bidang kajiannya luas. Untuk menfokuskan permasalahan yang ada dan untuk menghindari kesalahan interpretasi maka peneliti memberikan batas masalah sebagai berikut:

  1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa kelas 2 SDN Bakung 01 kecamatan Bakung kabupaten Blitar
  2. Materi yang diajarkan adalah pertumbuhan tumbuhan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.
  3. Penelitian ini dilakukan pada bulan september semester ganjil tahun pelajaran 2006/2007
  4. Strategi pengajaran dengan melakukan kegiatan bercocok tanam sebagai bagian dari metode pengajaran konstruktivisme.

Advertisement

No comments.

Leave a Reply